Tentang Pajak Import
Mungkin anda pernah mendapat paket dari luar negeri dengan pajak yang besar? Nilai paket 5 juta tapi kena pajak 3 juta?
Kemudian anda menuduh bahwa tukang pos telah memalak anda? Atau pihak bea cukai curang?
Eits..Tunggu dulu..jangan menyalahkan orang terlebih dahulu…mungkin anda belum tahu benar peraturan pajak yang berlaku di Indonesia.
Berikut pengalaman dan pengetahuan saya tentang pajak dalam mengimport barang. Saya bukan orang yang ahli pajak, sehingga penjelasan berikut belum tentu benar 100%, namun diharapkan bisa membantu anda. Sebaiknya anda bertanya ke konsultan pajak untuk penjelasan lebih lanjut.
Import
Saya tidak tahu persis definisi import menurut undang-undang, tetapi kira-kira adalah suatu kegiatan memasukkan barang dari luar negeri ke dalam negeri.
Bila saudara anda mengirim paket dari luar negeri apapun isinya, itu termasuk import, walaupun itu adalah barang-barang anda sendiri.
Lewat manapun anda mengirimnya, lewat kantor pos, UPS, FedEx, atau jasa pengiriman lainnya, itu termasuk import.
Pabean/Bea Cukai
Semua barang import, terlebih dulu masuk ke pabean. Di pabean barang diperiksa, isi paket dibuka. Jadi yang membuka isi paket adalah pihak bea cukai disaksikan pihak kantor pos.
Kemudian kantor pos akan membungkus ulang paket. Saya tidak tahu pasti biaya bungkus ulang ini, kadang-kadang kena Rp 3.000,- , kadang-kadang Rp 7.000,-
Tiap jenis barang memiliki nilai bea masuk yang berbeda-beda dan pajak berbeda-beda. Bisa dilihat di link BTBMI di bawah.
Pajak
Yang menentukan berapa pajak barang anda adalah pihak bea cukai. Kantor pos hanya menerima pembayaran pajak yang dibebankan kepada anda. Bila anda bertanya kepada pihak pos darimana asal-usul perhitungan, mereka akan menyuruh anda menghubungi pihak bea cukai langsung.
Total biaya yang kena pajak, adalah nilai barang ditambah nilai ongkos kirim, disebut juga FOB (Freight On Board). Bila tidak tercantum nilai barang, maka pihak bea cukai akan mengira-ngira nilainya. Oleh karena itu penting untuk mencantumkan nilai barang.
Untuk FOB dengan nilai 50 dollar, dibebaskan dari bea masuk dan pajak. Jadi bila anda ingin terbebas dari pajak, usahakan nilai barang dan ongkos kirim tidak lebih dari 50 dollar.
Bila nilai FOB lebih dari 50 dollar, maka anda akan kena bea masuk dan pajak. Pajak yang sudah pasti adalah PPN 10% dan PPH pasal 22 sebesar 7,5% (dengan asumsi anda tidak punya Angka Pengenal Importir -API). Jadi pajak yang pasti anda bayarkan adalah 17,5%.
Anda pun akan kena pajak lainnya, seperti pajak barang mewah, dan pajak lainnya tergantung jenis barang. Bisa dilihat di table BTBMI di bawah.
Perhitungan
Bila barang anda seharga 5 juta, ongkos kirim 1 juta, kira-kira berapakah uang yang anda keluarkan di kantor pos?
Jawab
Total FOB = 5 juta + 1 juta = 6 juta
PPN + PPH 22 = 17,5% x 6 juta = Rp 1.050.000,-
Bea Masuk = Rp Y,- (bisa dilihat ditabel BTMBI)
Pajak lainnya = Rp Z,- (bisa dilihat ditabel BTMBI)
Biaya bungkus ulang = Rp 3.000,-
Total biaya = PPN + PPH 22 + Bea Masuk + Pajak lainnya + Biaya bungkus ulang
= Rp 1.050.000,- + Rp Y,- + Rp Z,- + Rp 3.000,-
Hal-hal lain
Bila anda kena pajak yang besar, biasanya akan ada pihak bea cukai yang menawarkan bantuan menurunkan pajak. Anda dapat membiarkan atau bekerja sama dengan pihak tersebut, tergantung hati nurani anda. Saya tidak tahu apakah hal tersebut dibenarkan secara hukum atau tidak.
Cek faktur pajak anda palsu atau tidak. Bisa jadi ada oknum di jasa pengiriman barang memalsukan faktur pajak dan menarik biaya yang lebih besar.
Hati-hati memaketkan barang bekas (barang tidak baru), walaupun itu barang anda sendiri. Karena ada barang bekas yang tidak boleh masuk ke Indonesia.
Semoga membantu. Silakan bertanya ke konsultan pajak untu informasi yang lebih jelas dan tepat.
Referensi
Tarif Pajak Impor ppn & pph22
E-readiness vs Corruption Perception Index
Saya mendapat tugas untuk membandingkan e-readiness dengan corruption perception index. Supaya tidak hilang, saya tulis juga di blog ini dengan sedikit perubahan. Kira-kira berikut lah hasilnya, maaf bila analisisnya masih terlalu dangkal.
E-readiness
E-readiness adalah ukuran dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi demi keuntungan ekonomi dan sosial, dalam suatu negara.
Yang diukur dalam e-readiness adalah kualitas infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK), dan kemampuan konsumen, perusahaan, dan pemerintah dalam menggunakan TIK untuk meningkatkan keuntungan dan pelayanan kepada masyarakat.
Dengan ukuran ini, pemerintah bisa memperkirakan keberhasilan strategi TIK. Semakin berhasilnya TIK diharapkan aktivitas ekonomi bisa menjadi transparan dan efisien. Sehingga dengan kualitas yang baik, para pemodal asing bisa menginvestasikan uangnya ke dalam negeri.
Nilai e-readiness berkisar dari angka 0 – 10. Nilai ini dikeluarkan oleh Economist Intelligence Unit yang bekerja sama dengan IBM Institute for Business Value. Semakin besar nilai e-readiness, berarti kesiapan TIK nya semakin baik.
Pada tahun 2008, Indonesia mendapat nilai 3,59; dan berada pada peringkat 68 dari 70 negara.
Corruption Perception Index (CPI)
Korupsi dalam CPI ini, didefinisikan sebagai penggunaan kekuasaan publik untuk keuntungan pribadi. CPI adalah ukuran persepsi masyarakat terhadap korupsi di pejabat publik.
CPI adalah indeks dari berbagai survey data korupsi. CPI dikeluarkan oleh lembaga Transparency International. Indeks ini merefleksikan pandangan dari pengusaha, masyarakat, dari dalam negeri ataupun dari luar negeri.
Nilai CPI berkisar dari angka 0 – 10. Semakin besar indeksnya berarti semakin sedikit korupsi terjadi (menurut pandangan orang yang disurvey). Indonesia pada tahun 2008, mendapat nilai 2,6; dan berada di urutan ke-126 dari 180 negara.
Perbandingan e-readiness dan CPI negara Indonesia


Grafik 1
Dari grafik 1, nilai e-readiness dan CPI mempunyai kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun.
Dengan tingginya tingkat e-readiness, diharapkan kemampuan TIK tersebut akan membuat transparansi dan efisiensi dalam berbagai kebijakan publik. Transparansi dan efisiensi ini diharapkan akan menurunkan persepsi masyarakat tentang korupsi.
Kalau dilihat dari harapan di atas, kemungkinan ada korelasi bahwa peningkatan nilai e-readiness mempengaruhi naiknya CPI. Atau malah sebaliknya CPI mempengaruhi naiknya nilai e-readiness.
Tapi yang jelas kedua-duanya mempunyai kecenderungan naik. Berarti ada usaha dari dalam negeri (pemerintah khususnya) untuk memperbaiki infrastruktur TIK dan mengurangi korupsi di Indonesia.
Grafik 2
Peringkat e-readiness Indonesia cenderung semakin menurun (dibanding dengan negara lain) dari tahun ke tahun, walaupun nilai e-readiness-nya meningkat. Ini menunjukkan bahwa negara lain TIK-nya maju semakin cepat. TIK di Indonesia semakin tertinggal dari negara lain. Strategi dan penyerapan TIK Indonesia belum mampu untuk mengungguli strategi negara lain.
Dari grafik 2, juga dapat dilihat bahwa peringkat CPI cenderung semakin naik (dibandingkan dengan negara lain) dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan pemberantasan korupsi semakin berhasil.
Pada tahun 2008 terjadi kenaikan tajam dari peringkat CPI. Pada tahun 2008 juga, peringkat e-readiness malah semakin anjlok.
Kesimpulan
- Nilai e-rediness dan CPI cenderung naik, ada usaha pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur TIK dan mengurangi korupsi di Indonesia.
- Peringkat e-readiness Indonesia cenderung turun, kesiapan infrastruktur TIK & pendukungnya semakin tertinggal dengan negara lain
- Peringkat CPI Indonesia cenderung naik, pemberantasan korupsi mulai menampakkan hasil
- Di Indonesia, belum ada korelasi jelas apakah nilai e-readiness mempengaruhi CPI, atau CPI mempengaruhi e-readiness
Referensi
[1] E-readiness – http://en.wikipedia.org/wiki/E-readiness
[2] Corruption Perceptions Index – http://en.wikipedia.org/wiki/Corruption_Perceptions_Index
[3] 2004, 2005. 2006, 2007, 2008 Corruption Perceptions Index – http://www.transparency.org/policy_research/surveys_indices/cpi
[4] 2004, 2005. 2006, 2007, 2008 EIU e-readiness rankings, Economist Intelligence Unit
Tukang Ojek Bule

Apa yang anda pikirkan ketika melihat judul berita seperti ini:
“NEC Will Cut More Than 20000 Workers, Forecasts Loss”
“Kodak Posts Unexpected Loss, Will Cut Jobs“
“SAP axes 3000 jobs in first ever staff cut”
“Microsoft to cut up to 5000 jobs”
“Disney’s TV Unit Will Cut 400 Jobs”
“Starbucks to cut 6700 jobs“
“Worldwide economic recession could cut jobs by 50 million“
“Boeing Plans to Cut 10000 Jobs as Demand Weakens”
“Sprint Nextel to cut 8000 jobs”
Mungkin ada yang berpikir seperti ini:
“Wah parah juga ya di luar negeri, gimana dengan Indonesia ya, kok gak ada beritanya.”
“Mampus loe Amerika, bangkrut loe! Makanya jangan serakah!”
“Ternyata kapitalisme rontok. Perlu ada sistem baru!”
“Indonesia kayaknya bakal kena imbasnya deh di 2009″
“Resesi kali ini bakal parah! Siap-siap!”
“Tenang aja..Indonesia udah tahan resesi..udah biasa. Buktinya mal masih rame!”
“Emang gw pikirin, makan buat besok aja gw belum mikir.”
Tapi jangan heran bila nanti ada obrolan seperti ini:
“Damn, pilotnya Lion Air sekarang orang Amerika men!”
“Tour guide di Bali sekarang orang Jepang, cakep-cakep lagi.”
“Sial, kantor gw kebanyakan orang India. Geleng-geleng kepala mulu kalau ngomong.”
“Pariwisata sepertinya semakin maju neh. Banyak orang bule di mana-mana sekarang.”
Kenapa?
Orang luar yang kena PHK masal tentunya butuh makan. Untuk bisa makan tentunya harus kerja. Tapi bagaimana bila di negerinya sendiri tidak ada pekerjaan?
Kemungkinan mereka akan mencari pekerjaan di luar negerinya, ke negara-negara yang ekonominya masih bisa tumbuh, termasuk ke Indonesia. Mereka akan menerima gaji berapapun asal mereka bisa hidup.
Kira-kira perusahaan di Indonesia kebanyakan akan memilih pelamar yang mana ?
1. Orang Indonesia, lulusan ITB. Pengalaman kerja 3 tahun di Indonesia.
2. Orang India, lulusan Amerika. Pengalaman kerja di Microsoft 3 tahun. Permintaan gaji tidak berbeda jauh dari pelamar 1 (sedikit lebih tinggi).
Kalau kebanyakan memilih nomor 2, maka bukan tidak mungkin nanti ada bule yang jadi tukang ojek (terlalu ekstrim sih kalau jadi tukang ojek..hehehe).
Kalau kebanyakan memilih nomor 1…ya tukang ojeknya ya masih yang itu-itu aja.
PS:
Judul-judul berita di atas dapat dicari di sini!
Berternak Bebek – Pohon Uang Series

Pusing melihat IHSG yang turun terus menerus? Keuntungan di pasar saham semakin menipis? Atau anda mau ikut-ikutan membawa keluar uang anda dari pasar saham seperti investor asing itu? Tapi anda tidak tahu mau diinvestasikan ke mana?
Ya anda beruntung sekali karena pada saat ini saya akan membahas tentang cara menumbuhkan pohon uang dengan cara “Beternak Bebek”. Ya beternak bebek!
Yang jadi syarat utama selain modal awal adalah lahan. Anda harus punya lahan terlebih dahulu. Lahan yang diperlukan tidak luas, pokoknya cukup untuk tempat hidup 1000 ekor bebek. Anda bisa menggunakan lahan di belakang atau depan rumah anda sebagai kandang bebek. Kalau perlu lantai dua rumah anda bisa anda jadikan kandang bebek juga.
Untuk memperoleh keuntungan anda harus bisa membesarkan 1000 jantan DOD (Day Old Duck) menjadi bebek remaja selama 60 hari. Setelah 60 hari bebek tersebut harus segera dijual.

Kenapa Bebek?
Kenapa tidak? Bebek bakar di warung pecel lele aja, anda harus merogok kocek minimal 15 ribu untuk mendapatkannnya. Padahal itu cuma 1/5 bagian tubuh bebek itu. Mau tau harga di restoran? Yang pasti lebih dari 15 ribu.
Kenapa Bebek Jantan?
Anakan bebek jantan lebih murah daripada bebek betina. Bebek jantan relatif lebih cepat besar daripada betina.
Kenapa 60 hari?
Biaya yang paling besar dalam beternak bebek adalah faktor makanan bebek. Bebek dewasa butuh makanan banyak. Selain itu bebek jantan relatif lebih banyak makan daripada bebek betina.
Semakin cepat waktu anda memelihara bebek semakin sedikit biaya untuk memberi makannya. Tentunya dengan memperhitungkan harga jual bebek 60 hari yang lumayan tinggi.
Hitung-hitungannya gimana?
Hitung-hitungan di bawah dengan asumsi anda sudah punya lahan, dan biaya sumber daya manusianya tidak dihitung, karena anda sendiri adalah karyawannya.
Modal Awal + Operasional selama 60 hari:
DOD (anak bebek) : 1000 ekor x Rp 2.700,- = Rp 2.700.000,- Pembuatan Kandang : 1 x Rp 500.000,- = Rp 500.000,- Pakan Dedak : 600 kg x Rp 2.000,- = Rp 1.200.000,- Pakan Konsentrat : 400 kg x Rp 6.500,- = Rp 2.600.000,- Obat-obatan : 1 x Rp 200.000,- = Rp 200.000,- Biaya lain-lain : 1 x Rp 600.000,- = Rp 600.000,- ------------------------------------------------------------------- Total Pengeluaran = Rp 7.800.000,-
Penghasilan Kotor
(Asumsi bebek yang mati sebelum 60 hari adalah 15%)
Bebek umur 60 hari : 850 ekor x Rp 12.500,- = Rp 10.625.000,- ------------------------------------------------------------------- Total Penghasilan kotor = Rp 10.625.000,-
Keuntungan bersih
Keuntungan = Total Penghasilan Kotor - Total Pengeluaran = Rp 2.825.000,-
Segitu Keuntungannya?
Hitungan di atas adalah perhitungan moderat yang mengabaikan biaya tak terduga lainnya. Coba bayangkan dengan perhitungan moderat dalam waktu 60 hari anda sudah untung sekitar 36%.
Bagaimana kalau anda lebih agresif? Bebek yang hidup 99%, biaya pakan lebih rendah, dan pengeluaran lainnya dapat ditekan, anda pasti lebih banyak untungnya.
Dari tadi untung terus. Apakah ada resikonya?
Jelas ada dong. Setiap investasi ada resikonya. Begini resikonya:
- Bebek anda mati semua karena terkena virus flu burung, dicuri orang, atau kena bom. Tentunya anda akan rugi karena panen anda berkurang dengan kejadian ini.
- Tidak ada yang mau membeli bebek-bebek anda karena anda belum menemukan pembeli yang tepat. Bebek-bebek anda akan membutuhkan lebih banyak pakan dan akhirnya anda bisa frustasi dan menggoreng bebek anda sendiri untuk santap malam.
- Kandang bebek anda menimbulkan bau yang menyengat sehingga tetangga anda berdemo di depan rumah anda. Dan akhirnya terjadi anarkis dan memporak-porandakan kandang bebek anda. Serta akhirnya pendemo membawa pulang bebek-bebek anda.
- Anakan bebek yang anda beli ternyata palsu. Yang anda beli adalah anakan bebek karet. Jadi waspadalah dengan pembajakan.
- Hitung-hitungan di atas adalah salah semua, alias ngibul. Sehingga ketika anda beternak bebek hitungan di atas tidak berlaku.
Ada kata penutup, pak?
Sekian, terima kasih.
Hidup Lebih Mudah
Tanya: Kapankah hidup lebih mudah itu?
Jawab: Hidup lebih mudah itu..
Ketika saya bangun pada hari minggu pagi mendengar lagu ini: “Aku berlari-lari mengejar mobilku..Mobilku nomer satu..buatan ayah yang selalu kucinta..”.
Kemudian bergegas ke depan telivisi dan menonton ini:

Sambil membayangkan kapan punya mainan seperti ini:

Tidak lupa sambil makan permen karet (sambil berharap mendapatkan hadiah):

Sudah berhasil mengumpulkan bungkus permen karet yang bertuliskan Y-O-S-A dan tidak pernah berhasil mendapatkan huruf N seumur hidup.
Siangnya
Siangnya, main perang-perangan. Tidak lupa memakai topeng:

Lawannya memakai topeng:

Sorenya
Setelah capek bermain pulang terus tidur sore. Sebelum tidur tidak lupa baca:

Dalam tidur sempet juga bermimpi menjadi:

Terus lawannya adalah:

Malamnya
Malamnya biasanya ngapain ya? Bentar saya ingat-ingat dulu…
Kadang-kadang nonton ini:

Agak malaman nonton ini juga:

Sekitar jam 10an sudah bersiap mendengarkan serial radio yang kebetulan malam itu disiarkan semalam suntuk:

Jam 10 lebih udah tidur, tidak sampai tamat mendengarkan serial radionya.
Sekarang
Ya waktu itu hidup terasa lebih mudah..
Terus sekarang? Kalau sekarang, kita perlu mendefinisikan hidup mudah itu seperti apa. Batas-batas hidup mudah itu seperti apa. Kita perlu menyamakan pendapat mengenai hidup mudah itu.
Setiap orang tidak sama. Hidup mudah bagi anda, belum tentu mudah bagi saya. Hidup sulit bagi saya, bisa jadi mudah bagi anda.
That’s why I’m not you and you are not me. Enjoy our own life.
10,000 B.C. Movie Quote
“A good man draws a circle around him, and in it he cares for his family, his wife and children.
A great man draws a larger circle including his brothers, his friends, and protects them as he would his family.
But then there is the rare man who has a special destiny. His circle extends beyond boundaries to include the world of innocents who lack the will to defend themselves.”
Kebagian Harta Karun Sukarno
Di suatu waktu dan di suatu tempat
Di kejauhan ada rame-rame orang berkumpul. Karena penasaran, saya ikut nimbrung. Oh rupanya ada presentasi sesuatu.
“Bapak-bapak, Ibu-ibu..saya di sini akan menawarkan sebuah solusi bagi Indonesia.”, kata orang yang lagi orasi di depan.
“Ini saya mempunyai bukti bahwa Amerika dulu pernah ngutang sama bangsa Indonesia. Amerika mau bangkrut pada jamannya John F Kennedy (JFK). JFK butuh emas untuk menerbitkan uang dollar yang baru”. Hmm..boleh juga tuh orang pidato.
“Kebetulan Indonesia pada jaman itu punya emas yang banyak dari kerajaan-kerajaan dulu. JFK meminjam emas tersebut, dan menjanjikan bunga 2.5% buat Indonesia. Nih buktinya ada tanda tangannya”. Sambil menunjukkan gambar berikut:

“Ini adalah bagian dari kerjasama rahasia yang diberi nama ‘Green Hilton Agreement’. Kalau rahasia ini sampai terkuak Amerika bisa heboh, karena perekonomian mereka dibackup oleh emas dari Indonesia”. Yang nonton pun pura-pura manggut-manggut tahu.
“Bapak-bapak dan Ibu-ibu bisa mendapatkan bagian emasnya, dengan cara iuran 500 ribu saja. Uang ini dipakai untuk biaya administrasi. Nih kalau gak percaya, foto emasnya ada tulisannya Sukarno”.
Mana tulisan Sukarno-nya kecil amat gambarnya? Kayaknya pernah denger neh penipuan kayak gini. Pergilah saya dari situ. Terlihat beberapa orang sedang mendaftarkan dirinya sambil menyerahkan sejumlah uang di meja sebelah.
Di waktu lain dan di tempat lain
Waktu lagi makan di pinggir jalan, ada sesorang menghampiri. Penampilannya lumayan rapi. Dia membawa map dan sebuah tas. Tanpa basa-basi dia pun ngomong.
“Mas, anda pengen kaya gak?”, kata dia. Hmm..seperti orang mau menawarkan MLM neh pikir saya.
“Nih, saya bawa dokumen penting neh mas. Ini perjanjian antara Sukarno sama John F Keneddy pada tahun 1963 di Jenewa. Perjanjian ini yang sering disebut orang harta karun Sukarno itu lho mas.” Jangan-jangan ini orang komplotan orang yang kemarin itu.
“Sukarno pernah minjemin Amerika berton-ton emas, terus sekarang di simpen di Swiss. Nih lihat nih!”. Sambil memperlihatkan isi map tersebut yang berisi berat emas yang dipinjamkan.

“Lihat tanda tangannya Sukarno, presiden Amerika, sama orang banknya. Asli nih mas”, kata orang itu. Kok tanda tangannya beda dengan yang kemarin ya, pikirku.
“Sebenarnya John F Kennedy dibunuh karena perjanjian ini nih. CIA nggak mau orang-orang pada tau kalau sebenarnya Indonesia itu punya andil besar dalam perekonomian dunia. Tiga perempat uang di Amerika itu dibackup oleh emas kita.”
“CIA juga mendalangi penggulingan Sukarno pada tahun 66 karena masalah ini juga mas. Mereka nggak mau Indonesia nagih utang ke Amerika. Bisa bangkrut tuh Amerika.”, kata orang itu nerocos terus.
“Tenang aja mas, kita sudah punya akses ke harta tersebut. Kita sudah mengumpulkan tiga orang. Orang-orang ini yang sering disebut sebagai Satya Dharma, Suring Pati sama Lady of Roses. Cuma sidik jari mereka saja yang bisa membuka kotak-kotak penyimpanan harta tersebut.“ Hmm..canggih juga.
“Selain itu sebelum masuk mereka harus menyebutkan password..’Garuda Indonesia is married with Nangkuti than King Wall…’ wah saya lupa lanjutannya. Pokoknya banknya canggih deh, gak sembarang orang bisa masuk. Pake password semua.”
“Nah mas mau kebagian harta tersebut gak? Kita lagi butuh biaya untuk terbang ke Swiss nih, masih kurang sekitar 15 jutaan. Kalau mas mau minjemin nanti kebagian sekitar 1% harta tersebut. Lumayan lho walaupun cuma satu persen.”
Orang itu nerocos terus. Karena tidak saya tanggapi orang itu akhirnya pergi.
Penutup
Cerita di atas adalah fiksi belaka, kesamaan peristiwa dan nama, bisa jadi memang kebetulan belaka.
Woy…bangun oooiiii…kalau mau kaya ya kerja yang bener…harta karun itu hasil kerja nenek moyang selama ratusan tahun…masak ente yang kerja aja gak bisa mau minta bagian seeeh. Sadar diri dong!
Memenuhi Sesuatu yang Hilang?

Setelah membaca berita tentang banyaknya pejabat yang korup dan pejabat yang selingkuh, saya jadi berpikir. Benarkah setiap manusia cenderung memenuhi sesuatu yang hilang pada dirinya?
Pejabat Korup
Benarkah seorang koruptor itu dulunya adalah seorang yang miskin? Benarkan seorang koruptor itu dulunya orang kampung? Benarkah seorang koruptor itu dulunya adalah orang yang kekurangan?
Benarkah seorang koruptor itu adalah orang yang cerdas dan pandai? Karena kegigihannya dalam belajar dia bisa mendapat beasiswa SD, SMP, SMA, Universitas bahkan bisa mendapat beasiswa ke luar negeri. Benarkah seorang koruptor itu pada waktu masih sekolah selalu meminjam duit temannya hanya untuk bisa makan?
Benarkah seorang koruptor itu sebelum menjadi pejabat, hidup dalam kekurangan?
Benarkah seorang koruptor setelah menduduki jabatan tertentu mengambil uang yang bukan menjadi haknya?
Bila semua itu benar berarti ada sesuatu yang hilang dalam dirinya sebelum menjadi koruptor. Koruptor berusaha untuk memenuhi dirinya dengan sesuatu yang hilang pada dirinya dulu. Yaitu “kecukupan”. Koruptor pada masa mudanya selalu merasa kekurangan, jadi dia mencari sesuatu agar dirinya merasa “kecukupan”.
Pejabat Selingkuh
Benarkah seorang pejabat yang selingkuh itu dulunya adalah orang yang “kuper” (kurang pergaulan)? Benarkah pejabat yang selingkuh itu dulunya adalah orang yang tidak pede? Benarkah pejabat yang selingkuh itu dulunya wajahnya jerawatan?
Benarkah pejabat yang selingkuh itu dulunya belum pernah pacaran? Mungkin pejabat yang selingkuh itu dulunya tidak sempat pacaran karena sibuk belajar terus. Atau memang suka grogi ketika bertemu dengan seorang wanita. Atau mungkin karena ditolak melulu sama wanita.
Benarkah pejabat yang selingkuh itu dulunya menikahnya karena dijodohkan? Benarkah pejabat yang selingkuh itu sebenarnya tidak begitu suka dengan jodohnya, tapi apa boleh buat umur sudah banyak?
Benarkah setelah mempunyai jabatan dan uang banyak dia menjadi pede? Benarkah setelah menjadi pejabat dan uang banyak sering lirik sana lirik sini? Benarkah setelah menjadi pejabat dan uang banya sering membawa wanita ke hotel terus foto bersama dengan kamera hape?
Bila itu benar, kemungkinan ada sesuatu yang hilang dari orang tersebut. Setelah dia mempunyai kemampuan untuk memenuhi yang hilang itu, dia menyalurkan hasrat dan egonya secara membabi buta.
Kesimpulan
Manusia mempunyai keinginan yang terpendam. Misal seseorang yang pada waktu kecilnya tidak pernah punya mainan karena orang tuanya tidak mampu membelikannya, kemungkinan setelah dia mempunyai uang dia akan membeli mainan yang dia inginkan waktu kecil.
Tentunya semuanya ini masih harus dicari kebenarannya dengan melakukan riset secara mendetail terlebih dahulu.

