10 Alasan Mengapa Proyek TI Gagal

Ini adalah rangkuman dari tulisan Dr. Paul Dorsey yang tulisannya dapat diunduh di bawah.

Sekitar 50%-80% bahkan lebih, proyek TI termasuk kategori gagal. Mengapa gagal, karena proyek tersebut tidak memenuhi syarat biaya, kualitas, kecepatan (waktu), dan risiko yang diinginkan.

Berikut 10 cara yang dijamin akan membuat sebuah proyek TI gagal:

  1. Tidak menggunakan metodologi yang spesifik karena merasa koding adalah bagian yang terpenting
    Tidak menggunanakan sebuah metodologi adalah kesalahan yang fatal. Penggunaan metodologi yang telah terbukti dengan baik merupakan salah satu faktor sukses dalam sebuah proyek TI. Sebuah metodologi akan memberikan guideline dan langkah-langkah dalam proyek TI. Koding adalah bagian dalam sebuah metodologi dan itu bukan yang utama.
     
  2. Membuat perencanaan proyek, dengan melihat tanggal deadline
    Ini adalah kesalahan yang paling sering dilakukan dalam perencanaan proyek, yaitu merencanakan proyek dari awal proyek sampai tanggal dead line kemudian membaginya dalam fase-fase.  Memaksa sebuah proyek dengan tanggal deadline menyebabkan banyak langkah-langkah yang dilewati demi mengejar tangal deadline. Seharusnya sebuah perencanaan proyek dibuat berdasarkan waktu yang realistis tanpa melihat tanggal deadline.
     
  3. Membuat tabel di database tanpa membuat data model
    Data model adalah bagian utama dari sistem yang akan dibangun. Tanpa membuat data model dengan baik, maka sistem dipastikan tidak akan memenuhi keinginan dan kebutuhan dari penguna.
     
  4. Mempekerjakan technical lead yang belum pernah membuat sistem yang serupa, dengan alasan mahal untuk menggaji yang sudah berpengalaman
    Karyawan yang jadi technical lead, harus berpengalaman dan pernah mengerjakan proyek yang serupa. Kita tidak menginginkan seorang dokter umum melakukan operasi jantung bukan? Lebih baik mempekerjakan karyawan yang berpengalaman dengan gaji besar, dari pada mempekerjakan banyak orang yang tidak berpengalaman.
     
  5. Mempekerjakan lebih banyak developer agar koding lebih cepat
    Lebih banyak bukan selalu lebih baik. Proyek yang dibuat oleh sedikit developer yang berpengalaman, lebih baik daripada proyek yang dikerjakan oleh banyak developer namun kurang pengalamannya.
     
  6. Menggunakan teknologi yang tidak tepat
    Sebagai contoh, membuat suatu sistem dengan Java untuk membuat sebuah website, sementara developer dalam proyek tersebut menyangka bahwa Java adalah merk kopi.  Program Java memang bisa digunakan untuk pembuatan website, namun butuh developer yang berpengalaman. Sementara banyak alternatif program lainnya yang lebih sederhana dan lebih mudah untuk pembuatan website.
     
  7. Menyepelekan fase migrasi data
    Migrasi data dari sistem yang lama ke sistem yang baru adalah fase yang cukup berat. Kesalahan utama dalam proyek TI, biasanya sumber daya yang dipersiapkan dalam migrasi data sangat sedikit.  Contoh kesalahannya yaitu memberikan tugas kepada junior developer untuk melakukan migrasi data.
     
  8. Tidak melakukan testing karena proyek melebihi jadwal yang seharusnya
    Kesalahan ini adalah kesalahan cukup fatal, hal ini seperti terjun ke kolam renang tanpa mengecek dahulu ada airnya apa tidak kolam itu. Ingat bahwa tidak ada sistem yang bug-free.  Bug yang ditemukan ketika sudah sampai production, akan lebih berat diperbaikinya. Lebih mudah dan murah memperbaiki bug yang ditemukan dalam tahap development.
     
  9. Merubah requirement penting ketika proyek dalam fase akhir
    Memang requirement bisa berubah, namun harus dimanage agar tidak melebar dan mengganggu jalannya proyek. Harus dibuat aturan yang jelas bagaimana requirement yang baru diterima.
     
  10. Beli software jadi dan di-customize secara besar-besaran
    Software jadi dibuat berdasar asumsi proses bisnis tertentu. Proses bisnis dalam software, bisa jadi tidak sesuai dengan proses bisnis perusahaan, sehingga harus di-customize agar sesuai.  Namun bila kustomisasinya berlebihan akan membuat biaya lebih mahal daripada membangun dari awal.
     

Referensi:

Paul Dorsey. Top 10 Reasons Why Systems Projects Fail. 2000.
[Download][Mirror]

Bisnis Model – Warung Pecel Lele (bukan case study)

Abstrak
Anda pengin membuka usaha warung pecel lele? Di manapun warung anda akan atau sudah berdiri, di seberang jembatan, di bawah pohon mangga, atau di mall. anda perlu mendefinisikan model bisnis terlebih dahulu.

Pendahuluan
What? Model Bisnis? Lah warung saya sudah laris..apaan tuh pakai model bisnis model segala..gak butuh saya!

Ya sudahlah…tulisan ini ditujukan bagi siapa saja yang ingin membuka pecel lele dengan menggunakan model bisnis.

Model Bisnis
Menurut Applegate et al. 2009, model bisnis menjelaskan bagaimana sebuah organisasi berhubungan dengan lingkungannya untuk menentukan strategi unik,  menggunakan sumber daya, membangun kapabilitas yang diperlukan untuk menjalankan strategi, dan membuat suatu nilai untuk pemegang saham.

Apaan tuh maksud tulisan di atas? Saya mau jualan pecel lele doang kok aneh-aneh…

Kembali ke pecel lele, secara gampang bisnis model menentukan:
-    siapa sih pelanggan pecel lele kita? dan bagaimana cara menjual pecel lele tersebut?
-    bagaimana cara mendapatkan duitnya?
-    apa kelebihan pecel lele kita di banding yang lain?

Analisis Model Bisnis
Sekarang saatnya membuat analisis model bisnis pecel lele.

Asumsi: anda ingin membuat warung pecel lele di pinggir jalan Orchard Road di Singapura.

Pertama anda harus mendata dulu warung-warung lainnya yang ada di sepanjang jalan Orchard Road.

Ayam Bakar wong Tegal Bebek  Goreng pak Kumis Warung Pecel Lele Anda
Siapa pelanggannya & cara menjualnya? Pelanggannya anak kost, cara menjualnya dengan membuat warung tenda di bawah pohon jambu. Pelanggannya ibu-ibu yang malas memasak, cara menjualnya dengan mendorong gerobak di sepanjang jalan Orchard Road
Bagaimana cara mendapatkan duitnya?
Jualan ayam bakar dan pepes bakar Jualan bebek goreng dan nasi goreng
Kelebihan warungnya apa? - Lokasi strategis di bawah pohon jambu

- Sambelnya pedes sekali

- Ikan segar langsung diambil dari sungai sebelah

- Deket dengan pelanggan karena pakai gerobak-

- Digoreng di atas minyak dengan suhu 120 derajat celcius sehingga sehat dikonsumsi

Silakan anda isi kotak bagian anda di atas.

Dengan membandingkan model bisnis tersebut, anda akan mendapatkan gambaran bagaimana kira-kira kelangsungan usaha anda ke depan. Bila model bisnis anda sama dengan warung sebelah maka siap-siap anda berkompetisi gila-gilaan. Bila anda tidak bisa mengisi model bisnis di atas, sebaiknya anda jangan jualan pecel lele.

Beberapa saran dalam mengembangkan bisnis model warung pecel lele anda:

  • warung pecel lele anda harus mempunyai kelebihan dibanding warung lainnya, misalnya: lele yang dijual adalah lele lokal yang warnanya putih atau sambel pecel anda warnanya hijau karena dibuat dari cabai hijau
  • selain menjual pecel lele anda juga menjual produk varian lainnya misalnya kripik lele, lele bakar, lele cah kangkung, dll
  • anda menggratiskan pecel lele yang anda jual, tetapi men-charge lebih mahal minuman yang diminum pelanggan
  • warung menerima delivery order 24 jam, bila delivery order terlambat, pelanggan mendapat dua ekor lele ukuran jumbo
  • bila lele susah dicari di tempat anda, sebaiknya anda jangan jualan pecel lele

Kesimpulan
Warung pecel lele pun perlu suatu model bisnis agar sukses.  Karena tulisan ini bukan case study, jadi belum dapat disimpulkan berapa tingkat kesuksesan antara warung yang mendefinisikan model bisnis secara jelas dan yang tidak.

Referensi
Aplegate, M., Austin, R. D., Soule, D. L., 2009. Corporate Information Strategy and Management: Text and Cases – Eight Edition, McGraw Hill International Edition, 2009.

NB:
Tulisan di atas sedang dalam proses dikirim ke jurnal “Kamverd Business Review”