Bisnis Model – Warung Pecel Lele (bukan case study)

Abstrak
Anda pengin membuka usaha warung pecel lele? Di manapun warung anda akan atau sudah berdiri, di seberang jembatan, di bawah pohon mangga, atau di mall. anda perlu mendefinisikan model bisnis terlebih dahulu.

Pendahuluan
What? Model Bisnis? Lah warung saya sudah laris..apaan tuh pakai model bisnis model segala..gak butuh saya!

Ya sudahlah…tulisan ini ditujukan bagi siapa saja yang ingin membuka pecel lele dengan menggunakan model bisnis.

Model Bisnis
Menurut Applegate et al. 2009, model bisnis menjelaskan bagaimana sebuah organisasi berhubungan dengan lingkungannya untuk menentukan strategi unik,  menggunakan sumber daya, membangun kapabilitas yang diperlukan untuk menjalankan strategi, dan membuat suatu nilai untuk pemegang saham.

Apaan tuh maksud tulisan di atas? Saya mau jualan pecel lele doang kok aneh-aneh…

Kembali ke pecel lele, secara gampang bisnis model menentukan:
-    siapa sih pelanggan pecel lele kita? dan bagaimana cara menjual pecel lele tersebut?
-    bagaimana cara mendapatkan duitnya?
-    apa kelebihan pecel lele kita di banding yang lain?

Analisis Model Bisnis
Sekarang saatnya membuat analisis model bisnis pecel lele.

Asumsi: anda ingin membuat warung pecel lele di pinggir jalan Orchard Road di Singapura.

Pertama anda harus mendata dulu warung-warung lainnya yang ada di sepanjang jalan Orchard Road.

Ayam Bakar wong Tegal Bebek  Goreng pak Kumis Warung Pecel Lele Anda
Siapa pelanggannya & cara menjualnya? Pelanggannya anak kost, cara menjualnya dengan membuat warung tenda di bawah pohon jambu. Pelanggannya ibu-ibu yang malas memasak, cara menjualnya dengan mendorong gerobak di sepanjang jalan Orchard Road
Bagaimana cara mendapatkan duitnya?
Jualan ayam bakar dan pepes bakar Jualan bebek goreng dan nasi goreng
Kelebihan warungnya apa? - Lokasi strategis di bawah pohon jambu

- Sambelnya pedes sekali

- Ikan segar langsung diambil dari sungai sebelah

- Deket dengan pelanggan karena pakai gerobak-

- Digoreng di atas minyak dengan suhu 120 derajat celcius sehingga sehat dikonsumsi

Silakan anda isi kotak bagian anda di atas.

Dengan membandingkan model bisnis tersebut, anda akan mendapatkan gambaran bagaimana kira-kira kelangsungan usaha anda ke depan. Bila model bisnis anda sama dengan warung sebelah maka siap-siap anda berkompetisi gila-gilaan. Bila anda tidak bisa mengisi model bisnis di atas, sebaiknya anda jangan jualan pecel lele.

Beberapa saran dalam mengembangkan bisnis model warung pecel lele anda:

  • warung pecel lele anda harus mempunyai kelebihan dibanding warung lainnya, misalnya: lele yang dijual adalah lele lokal yang warnanya putih atau sambel pecel anda warnanya hijau karena dibuat dari cabai hijau
  • selain menjual pecel lele anda juga menjual produk varian lainnya misalnya kripik lele, lele bakar, lele cah kangkung, dll
  • anda menggratiskan pecel lele yang anda jual, tetapi men-charge lebih mahal minuman yang diminum pelanggan
  • warung menerima delivery order 24 jam, bila delivery order terlambat, pelanggan mendapat dua ekor lele ukuran jumbo
  • bila lele susah dicari di tempat anda, sebaiknya anda jangan jualan pecel lele

Kesimpulan
Warung pecel lele pun perlu suatu model bisnis agar sukses.  Karena tulisan ini bukan case study, jadi belum dapat disimpulkan berapa tingkat kesuksesan antara warung yang mendefinisikan model bisnis secara jelas dan yang tidak.

Referensi
Aplegate, M., Austin, R. D., Soule, D. L., 2009. Corporate Information Strategy and Management: Text and Cases – Eight Edition, McGraw Hill International Edition, 2009.

NB:
Tulisan di atas sedang dalam proses dikirim ke jurnal “Kamverd Business Review”

Tentang Pajak Import

Mungkin anda pernah mendapat paket dari luar negeri dengan pajak yang besar? Nilai paket 5 juta tapi kena pajak 3 juta?

Kemudian anda menuduh bahwa tukang pos telah memalak anda? Atau pihak bea cukai curang?

Eits..Tunggu dulu..jangan menyalahkan orang terlebih dahulu…mungkin anda belum tahu benar peraturan pajak yang berlaku di Indonesia.

Berikut pengalaman dan pengetahuan saya tentang pajak dalam mengimport barang. Saya bukan orang yang ahli pajak, sehingga penjelasan berikut belum tentu benar 100%, namun diharapkan bisa membantu anda.  Sebaiknya anda bertanya ke konsultan pajak untuk penjelasan lebih lanjut.

Import
Saya tidak tahu persis definisi import menurut undang-undang, tetapi kira-kira adalah suatu kegiatan memasukkan barang dari luar negeri ke dalam negeri.

Bila saudara anda mengirim paket dari luar negeri apapun isinya, itu termasuk import, walaupun itu adalah barang-barang anda sendiri.

Lewat manapun anda mengirimnya, lewat kantor pos, UPS, FedEx, atau jasa pengiriman lainnya, itu termasuk import.

Pabean/Bea Cukai
Semua barang import, terlebih dulu masuk ke pabean. Di pabean barang diperiksa, isi paket dibuka. Jadi yang membuka isi paket adalah pihak bea cukai disaksikan pihak kantor pos.

Kemudian kantor pos akan membungkus ulang paket. Saya tidak tahu pasti biaya bungkus ulang ini, kadang-kadang kena Rp 3.000,- , kadang-kadang Rp 7.000,-

Tiap jenis barang memiliki nilai bea masuk yang berbeda-beda dan pajak berbeda-beda. Bisa dilihat di link BTBMI di bawah.

Pajak
Yang menentukan berapa pajak barang anda adalah pihak bea cukai. Kantor pos hanya menerima pembayaran pajak yang dibebankan kepada anda. Bila anda bertanya kepada pihak pos darimana asal-usul perhitungan, mereka akan menyuruh anda menghubungi pihak bea cukai langsung.

Total biaya yang kena pajak, adalah nilai barang ditambah nilai ongkos kirim, disebut juga FOB (Freight On Board).  Bila tidak tercantum nilai barang, maka pihak bea cukai akan mengira-ngira nilainya. Oleh karena itu penting untuk mencantumkan nilai barang.

Untuk FOB dengan nilai 50 dollar, dibebaskan dari bea masuk dan pajak. Jadi bila anda ingin terbebas dari pajak, usahakan nilai barang dan ongkos kirim tidak lebih dari 50 dollar.

Bila nilai FOB lebih dari 50 dollar, maka anda akan kena bea masuk dan pajak. Pajak yang sudah pasti adalah PPN 10% dan PPH pasal 22 sebesar 7,5% (dengan asumsi anda tidak punya Angka Pengenal Importir -API). Jadi pajak yang pasti anda bayarkan adalah 17,5%.

Anda pun akan kena pajak lainnya, seperti pajak barang mewah, dan pajak lainnya tergantung jenis barang. Bisa dilihat di table BTBMI di bawah.

Perhitungan
Bila barang anda seharga 5 juta, ongkos kirim 1 juta, kira-kira berapakah uang yang anda keluarkan di kantor pos?

Jawab
Total FOB = 5 juta + 1 juta = 6 juta
PPN + PPH 22 = 17,5% x 6 juta = Rp 1.050.000,-
Bea Masuk = Rp Y,- (bisa dilihat ditabel BTMBI)
Pajak lainnya = Rp Z,-  (bisa dilihat ditabel BTMBI)
Biaya bungkus ulang = Rp 3.000,-

Total biaya = PPN + PPH 22 + Bea Masuk + Pajak lainnya + Biaya bungkus ulang
= Rp 1.050.000,- + Rp Y,- + Rp Z,- + Rp 3.000,-

Hal-hal lain

Bila anda kena pajak yang besar, biasanya akan ada pihak bea cukai yang menawarkan bantuan menurunkan pajak. Anda dapat membiarkan atau bekerja sama dengan pihak tersebut, tergantung hati nurani anda. Saya tidak tahu apakah hal tersebut dibenarkan secara hukum atau tidak.

Cek faktur pajak anda palsu atau tidak. Bisa jadi ada oknum di jasa pengiriman barang memalsukan faktur pajak dan menarik biaya yang lebih besar.

Hati-hati memaketkan barang bekas (barang tidak baru), walaupun itu barang anda sendiri. Karena ada barang bekas yang tidak boleh masuk ke Indonesia.

Semoga membantu. Silakan bertanya ke konsultan pajak untu informasi yang lebih jelas dan tepat.

Referensi

Tarif Pajak Impor ppn & pph22

Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI)

E-readiness vs Corruption Perception Index

Saya mendapat tugas untuk membandingkan e-readiness dengan corruption perception index.  Supaya tidak hilang, saya tulis juga di blog ini dengan sedikit perubahan. Kira-kira berikut lah hasilnya, maaf bila analisisnya masih terlalu dangkal.


E-readiness

E-readiness adalah ukuran dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi demi keuntungan ekonomi dan sosial, dalam suatu negara.

Yang diukur dalam e-readiness adalah kualitas infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK), dan kemampuan konsumen, perusahaan, dan pemerintah dalam menggunakan TIK untuk meningkatkan keuntungan dan pelayanan kepada masyarakat.

Dengan ukuran ini, pemerintah bisa memperkirakan keberhasilan strategi TIK.  Semakin berhasilnya TIK diharapkan aktivitas ekonomi bisa menjadi transparan dan efisien.  Sehingga dengan kualitas yang baik,  para pemodal asing bisa menginvestasikan uangnya ke dalam negeri.

Nilai e-readiness berkisar dari angka 0 – 10. Nilai ini dikeluarkan oleh  Economist Intelligence Unit yang bekerja sama dengan IBM Institute for Business Value.  Semakin besar nilai e-readiness, berarti kesiapan TIK nya semakin baik.

Pada tahun 2008,  Indonesia mendapat nilai 3,59;  dan berada pada peringkat 68 dari 70 negara.


Corruption Perception Index (CPI)

Korupsi dalam CPI ini, didefinisikan sebagai penggunaan kekuasaan publik untuk keuntungan pribadi.  CPI adalah ukuran persepsi masyarakat terhadap korupsi di pejabat publik.

CPI adalah indeks dari berbagai survey data korupsi.  CPI dikeluarkan oleh lembaga Transparency International. Indeks ini merefleksikan pandangan dari pengusaha, masyarakat, dari dalam negeri ataupun dari luar negeri.

Nilai CPI berkisar dari angka 0 – 10. Semakin besar indeksnya berarti semakin sedikit korupsi terjadi (menurut pandangan orang yang disurvey).  Indonesia pada tahun 2008, mendapat nilai 2,6;  dan berada di urutan ke-126 dari 180 negara.


Perbandingan e-readiness dan CPI negara Indonesia

tabel_cpi

grafik_cpi

Grafik 1
Dari grafik 1, nilai e-readiness dan CPI mempunyai kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun.

Dengan tingginya tingkat e-readiness, diharapkan kemampuan TIK tersebut akan membuat transparansi dan efisiensi dalam berbagai kebijakan publik.  Transparansi dan efisiensi ini diharapkan akan menurunkan persepsi masyarakat tentang korupsi.

Kalau dilihat dari harapan di atas, kemungkinan ada korelasi bahwa peningkatan nilai e-readiness mempengaruhi naiknya CPI. Atau malah sebaliknya CPI mempengaruhi naiknya nilai e-readiness.

Tapi yang jelas kedua-duanya mempunyai kecenderungan naik. Berarti ada usaha dari dalam negeri (pemerintah khususnya) untuk memperbaiki infrastruktur TIK dan mengurangi korupsi di Indonesia.

Grafik 2

Peringkat e-readiness Indonesia cenderung semakin menurun (dibanding dengan negara lain) dari tahun ke tahun, walaupun nilai e-readiness-nya meningkat. Ini menunjukkan bahwa negara lain TIK-nya maju semakin cepat. TIK di Indonesia semakin tertinggal dari negara lain.  Strategi dan penyerapan TIK Indonesia belum mampu untuk mengungguli strategi negara lain.

Dari grafik 2, juga dapat dilihat bahwa peringkat CPI cenderung semakin naik (dibandingkan dengan negara lain) dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan pemberantasan korupsi semakin berhasil.

Pada tahun 2008 terjadi kenaikan tajam dari peringkat CPI.  Pada tahun 2008 juga, peringkat e-readiness malah semakin anjlok.


Kesimpulan

- Nilai e-rediness dan CPI cenderung naik, ada usaha pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur TIK dan mengurangi korupsi di Indonesia.

- Peringkat e-readiness Indonesia cenderung turun, kesiapan infrastruktur TIK & pendukungnya semakin tertinggal dengan negara lain

- Peringkat CPI Indonesia cenderung naik, pemberantasan korupsi mulai menampakkan hasil

- Di Indonesia, belum ada korelasi jelas apakah nilai e-readiness mempengaruhi CPI, atau CPI mempengaruhi e-readiness

Referensi

[1] E-readiness – http://en.wikipedia.org/wiki/E-readiness

[2] Corruption Perceptions Index – http://en.wikipedia.org/wiki/Corruption_Perceptions_Index

[3] 2004, 2005. 2006, 2007, 2008 Corruption Perceptions Index – http://www.transparency.org/policy_research/surveys_indices/cpi

[4] 2004, 2005. 2006, 2007, 2008 EIU e-readiness rankings, Economist Intelligence Unit

Posted in Tugas. 1 Comment »

Tukang Ojek Bule

motorcycle_-_blur_focus

Apa yang anda pikirkan ketika melihat judul berita seperti ini:

“NEC Will Cut More Than 20000 Workers, Forecasts Loss”
“Kodak Posts Unexpected Loss, Will Cut Jobs
“SAP axes 3000 jobs in first ever staff cut”

“Microsoft to cut up to 5000 jobs”
“Disney’s TV Unit Will Cut 400 Jobs”
“Starbucks to cut 6700 jobs

“Worldwide economic recession could cut jobs by 50 million

“Boeing Plans to Cut 10000 Jobs as Demand Weakens”
“Sprint Nextel to cut 8000 jobs”

Mungkin ada yang berpikir seperti ini:

“Wah parah juga ya di luar negeri, gimana dengan Indonesia ya, kok gak ada beritanya.”
“Mampus loe Amerika, bangkrut loe! Makanya jangan serakah!”
“Ternyata kapitalisme rontok. Perlu ada sistem baru!”
“Indonesia kayaknya bakal kena imbasnya deh di 2009″
“Resesi kali ini bakal parah! Siap-siap!”
“Tenang aja..Indonesia udah tahan resesi..udah biasa. Buktinya mal masih rame!”
“Emang gw pikirin, makan buat besok aja gw belum mikir.”

Tapi jangan heran bila nanti ada obrolan seperti ini:

“Damn, pilotnya Lion Air sekarang orang Amerika men!”
“Tour guide di Bali sekarang orang Jepang, cakep-cakep lagi.”
“Sial, kantor gw kebanyakan orang India. Geleng-geleng kepala mulu kalau ngomong.”
“Pariwisata sepertinya semakin maju neh. Banyak orang bule di mana-mana sekarang.”

Kenapa?

Orang luar yang kena PHK masal tentunya butuh makan. Untuk bisa makan tentunya harus kerja. Tapi bagaimana bila di negerinya sendiri tidak ada pekerjaan?

Kemungkinan mereka akan mencari pekerjaan di luar negerinya, ke negara-negara yang ekonominya masih bisa tumbuh, termasuk ke Indonesia. Mereka akan menerima gaji berapapun asal mereka bisa hidup.

Kira-kira perusahaan di Indonesia kebanyakan akan memilih pelamar yang mana ?

1. Orang Indonesia, lulusan ITB. Pengalaman kerja 3 tahun di Indonesia.

2. Orang India, lulusan Amerika. Pengalaman kerja di Microsoft 3 tahun. Permintaan gaji tidak berbeda jauh dari pelamar 1 (sedikit lebih tinggi).

Kalau kebanyakan memilih nomor 2, maka bukan tidak mungkin nanti ada bule yang jadi tukang ojek (terlalu ekstrim sih kalau jadi tukang ojek..hehehe).

Kalau kebanyakan memilih nomor 1…ya tukang ojeknya ya masih yang itu-itu aja.

PS:
Judul-judul berita di atas dapat dicari di sini!

Posted in Ojek. 3 Comments »

Berternak Bebek – Pohon Uang Series

Pusing melihat IHSG yang turun terus menerus? Keuntungan di pasar saham semakin menipis? Atau anda mau ikut-ikutan membawa keluar uang anda dari pasar saham seperti investor asing itu? Tapi anda tidak tahu mau diinvestasikan ke mana?

Ya anda beruntung sekali karena pada saat ini saya akan membahas tentang cara menumbuhkan pohon uang dengan cara “Beternak Bebek”. Ya beternak bebek!

Yang jadi syarat utama selain modal awal adalah lahan. Anda harus punya lahan terlebih dahulu. Lahan yang diperlukan tidak luas, pokoknya cukup untuk tempat hidup 1000 ekor bebek. Anda bisa menggunakan lahan di belakang atau depan rumah anda sebagai kandang bebek. Kalau perlu lantai dua rumah anda bisa anda jadikan kandang bebek juga.

Untuk memperoleh keuntungan anda harus bisa membesarkan 1000 jantan DOD (Day Old Duck) menjadi bebek remaja selama 60 hari. Setelah 60 hari bebek tersebut harus segera dijual.

Kenapa Bebek?

Kenapa tidak? Bebek bakar di warung pecel lele aja, anda harus merogok kocek minimal 15 ribu untuk mendapatkannnya. Padahal itu cuma 1/5 bagian tubuh bebek itu. Mau tau harga di restoran? Yang pasti lebih dari 15 ribu.

Kenapa Bebek Jantan?

Anakan bebek jantan lebih murah daripada bebek betina. Bebek jantan relatif lebih cepat besar daripada betina.

Kenapa 60 hari?

Biaya yang paling besar dalam beternak bebek adalah faktor makanan bebek. Bebek dewasa butuh makanan banyak. Selain itu bebek jantan relatif lebih banyak makan daripada bebek betina.

Semakin cepat waktu anda memelihara bebek semakin sedikit biaya untuk memberi makannya. Tentunya dengan memperhitungkan harga jual bebek 60 hari yang lumayan tinggi.

Hitung-hitungannya gimana?

Hitung-hitungan di bawah dengan asumsi anda sudah punya lahan, dan biaya sumber daya manusianya tidak dihitung, karena anda sendiri adalah karyawannya.

Modal Awal + Operasional selama 60 hari:

DOD (anak bebek)    : 1000 ekor  x Rp   2.700,-    = Rp 2.700.000,-
Pembuatan Kandang   : 1          x Rp 500.000,-    = Rp   500.000,-
Pakan Dedak         : 600 kg     x Rp   2.000,-    = Rp 1.200.000,-
Pakan Konsentrat    : 400 kg     x Rp   6.500,-    = Rp 2.600.000,-
Obat-obatan         : 1          x Rp 200.000,-    = Rp   200.000,-
Biaya lain-lain     : 1          x Rp 600.000,-    = Rp   600.000,-
-------------------------------------------------------------------
Total Pengeluaran                                  = Rp 7.800.000,-


Penghasilan Kotor
(Asumsi bebek yang mati sebelum 60 hari adalah 15%)

Bebek umur 60 hari  : 850 ekor x Rp 12.500,-       = Rp 10.625.000,-
-------------------------------------------------------------------
Total Penghasilan kotor                            = Rp 10.625.000,-


Keuntungan bersih

Keuntungan = Total Penghasilan Kotor - Total Pengeluaran = Rp 2.825.000,-

Segitu Keuntungannya?

Hitungan di atas adalah perhitungan moderat yang mengabaikan biaya tak terduga lainnya. Coba bayangkan dengan perhitungan moderat dalam waktu 60 hari anda sudah untung sekitar 36%.

Bagaimana kalau anda lebih agresif? Bebek yang hidup 99%, biaya pakan lebih rendah, dan pengeluaran lainnya dapat ditekan, anda pasti lebih banyak untungnya.

Dari tadi untung terus. Apakah ada resikonya?

Jelas ada dong. Setiap investasi ada resikonya. Begini resikonya:

  1. Bebek anda mati semua karena terkena virus flu burung, dicuri orang, atau kena bom. Tentunya anda akan rugi karena panen anda berkurang dengan kejadian ini.
  2. Tidak ada yang mau membeli bebek-bebek anda karena anda belum menemukan pembeli yang tepat. Bebek-bebek anda akan membutuhkan lebih banyak pakan dan akhirnya anda bisa frustasi dan menggoreng bebek anda sendiri untuk santap malam.
  3. Kandang bebek anda menimbulkan bau yang menyengat sehingga tetangga anda berdemo di depan rumah anda. Dan akhirnya terjadi anarkis dan memporak-porandakan kandang bebek anda. Serta akhirnya pendemo membawa pulang bebek-bebek anda.
  4. Anakan bebek yang anda beli ternyata palsu. Yang anda beli adalah anakan bebek karet. Jadi waspadalah dengan pembajakan.
  5. Hitung-hitungan di atas adalah salah semua, alias ngibul. Sehingga ketika anda beternak bebek hitungan di atas tidak berlaku.

Ada kata penutup, pak?

Sekian, terima kasih.